Posted by: perdu | January 27, 2010

Kota dan Keruangan

Nyatanya, keluasan keruangan secara fisik tidak menjamin keluasan keruangan psikologis penghuninya.

Berbicara tentang kota, pastilah bayangan kita mengarah pada gedung-gedung bertingkat, jalan besar dengan lalu lintas yang ramai dipadati mobil, dan segala bentuk imajinasi gemerlapan yang ada di dalamnya. Tidak salah memang, sejak saya masih kecil, televisi hitam putih -satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan saya dengan dunia luar-, hampir-hampir selalu menayangkan kota dalam sisi yang mewah. Sebagai seorang anak desa yang kanan-kirinya hanya dikelilingi sawah dan sungai, gedung bertingkat adalah hal yang luar biasa, dan karena itu membuat saya sangat ingin merasakan bagaimana sensasi berdiri di atas gedung yang paling tinggi seperti yang nampak dalam televisi.

Bertahun-tahun kemudian, impian kecil sayapun tercapai, meski hanya di lantai paling atas sebuah mall di kota metropolitan. Bukan gedung yang paling tinggi, tapi kemungkinan rasanya tidak akan beda, biasa saja. Lambat laun sayapun juga menyadari mengapa kenampakan kota begitu berbeda dengan desa dipandang dari segi fisik bangunan. Mengapa ada begitu banyak gedun-gedung tinggi bertebaran?
Read More…

Posted by: perdu | January 22, 2010

Autumn in Paris

Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua, November 2007

Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Tatsuya Fujisawa sudah pernah merasakan sakitnya…

Lelaki itu membenci Paris dan musim gugur, karena baginya Paris mengingatkannya pada seorang yang telah menghancurkan hidupnya. Namun dia telah bertekad, bahwa kenyataan itu sepahit apapun mau tidak mau harus dia hadapi. Oleh karena itulah suatu hari dia datang menemui orang tersebut, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya, lelaki yang merupakan cinta pertama ibunya, sekaligus lelaki yang merupakan ayah kandungnya sendiri, Jean Daniel Lemercier.
Read More…

Posted by: perdu | January 8, 2010

The Lost Shoes

8 Januari , saat hari meredup dan mendung mengeja langit…

Betapa terkejutnya aku saat keluar dari PMPM siang ini, sepatu hitamku yang biasa bertengger di rak paling atas mendadak raib tak berbekas. Kemanakah? Mataku celingukan menyisiri deretan sepatu-sepatu lain yang berserakan, namun tetap saja tak nampak ujung sepatuku. Aku menarik nafas, mulanya kupikir mataku sudah terlalu lelah memandangi layar komputer sehingga sepatu sendiripun terlewat. Maka kugosok-gosokkan tangan pada mata beberapa kali, dan kembali mencari sepatuku diantara rak dan tumpukan sepatu lainnya. Tetap tidak ada. Astaga, sepatuku benar-benar hilang!
Read More…

Posted by: perdu | December 23, 2009

Summer In Seoul

Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua, Mei 2007

Aku beberapa kali pernah bilang bahwa aku tidak terlalu suka teenlit, ya jika masih ada pilihan bacaan lain tentunya. Meskipun sebenarnya juga bukanlah orang yang anti teenlit, tapi rasanya garing saja membaca cerita yang alurnya mudah ditebak mau dibawa ke mana pembacanya. Well, tapi kali ini aku sedang ingin membahas teenlit, anggap saja ulasan istimewa :D
Read More…

Posted by: perdu | November 28, 2009

Fear Street


Buku spesialis thiller yang selalu berlatar belakang Shadyside dengan fear streetnya diceritakan sebagai sebuah kota kecil yang tidak pernah luput dari tragedi-tragedi mengerikan…
Read More…

Posted by: perdu | November 23, 2009

Pujon (Smart Camp II)

di depan pondok Cak Gimbal

Smart Camp 2, Dsn.Sebaloh, Ds.Pandesari, Pujon, Malang 13-15 November 2009
Read More…

Posted by: perdu | November 17, 2009

Saya, Buku, dan Possesifitas

Memandangi punggungnya saat keluar dari kelas, saya hanya bisa berkata dalam hati, “Semoga bukunya baik-baik saja, semoga baik-baik saja…”.

Read More…

Posted by: perdu | October 27, 2009

Perahu Kertas

perahu kertas

Menyentil! Selebihnya; lincah, lucu, dan menghibur (itu saja).

Read More…

Posted by: perdu | October 27, 2009

Dedah Hati

candle

……

sepanjang kenangan menggenangi keranjang hari

seperti mengekalkan waktu

seseorang di sini tengah mengeja makna hidup

dengan hening


……

*selamat ulang tahun


Posted by: perdu | September 30, 2009

Mudik, Pulang Pada Rindu

malam resmi terlelap, telah kulihat gulita selimuti tidurnya

adapun titik-titik putih di wajahnya itu, tanda sayang lampu jalanan yang berkelebat cepat dari tempatku

dan keretaku pun terus melaju tinggalkan jauh kotamu

pulang pada rindu…


(Kamis, 17  September  2009)

Pukul 22.45 wib, kereta besi yang kutumpangi ahirnya berangkat dari stasiun Gubeng. Menahan rasa panas karena kipas angin yang macet dan merelakan berbagi bangku yang seharusnya untuk dua orang dipakai menjadi tiga orang dengan kawan yang tidak kebagian tiket duduk. Masih lebih baik daripada harus menggelar koran diantara kaki para penumpang demi bisa pulang ke kampung halaman. Demikian hebatnya niat untuk mudik membuat banyak orang rela menahan rasa tidak nyaman demi bisa kembali berkumpul dengan sanak saudara.

Untungnya, tiket kereta sudah kupesan satu bulan sebelum hari keberangkatan, persis seperti himbauan PJ KA yang tertulis dalam spanduk pengumuman, “Tiket dapat di pesan 30 hari sebelum keberangkatan”Read More…

Older Posts »

Categories