Posted by: perdu | June 2, 2011

The Girls of Riyadh

Pengarang: Rajaa Al Sanea
Penerbit: Ufuk Publishing House
Cetakan: Cetakan I Desember 2007

Buku ini pernah populer sekitar tahun 2008. Dan waktu itu aku tidak pernah berniat membacanya. Kenapa? Melihat dari resensi-resensi yang diberikan oleh media cetak ya paling-paling isinya tidak lebih tentang kesetaraan gender dan gugatan terhadap tradisi di Saudi sana. Apa yang salah dengan kesetaraan gender? Tidak ada. Hanya aku terlalu malas mendebatkan topik yang biasanya dalam kehidupan sehari-hari menjadi topik debat kusir. Sampai tiga tahun berselang, 2011, beberapa hari yang lalu, saat didera kebosanan, seorang teman menawarkan ebook ini dan mulailah aku membaca dengan (sedikit) ogah-ogahan.

Kenapa buku ini menjadi best seller? Pointnya terletak pada keberanian penulisnya dalam mengungkap tradisi masyarakat Saudi yang selama ini dianggap tabu. Bermula dari kebiasaannya mengirimkan email setiap hari Jumat pada sebuah mailing list seerehTve7ifa4ha7net@yahoogroups.com. Email tersebut menceritakan tentang kisah nyata kehidupan empat orang sahabatnya dalam mencari cinta (?).

Qamrah El Qashmany, perempuan yang dinikahkan keluarganya dengan Rasyid lelaki dari keluarga terhormat. Malangnya kehidupan rumah tangganya harus kandas karena Rasyid memiliki affair dengan wanita lain sementara ia dipulangkan ke Saudi dan dicerai dalam keadaan hamil.

Shedim El Harimly, perempuan ini ditunangkan dengan Walid yang juga merupakan lelaki terhormat. Shedim yang dalam buku ini diceritakan sebagai perempuan yang pandai namun pada kenyataannya juga mengalami cerita tak kalah menyedihkan dibanding Qamrah. Walid membatalkan pertunangan mereka justru di saat Shedim telah menyerahkan kehormatannya untuk lelaki tersebut.

Michelle El Abdul Rahman, perempuan berdarah Arab – Amerika yang memiliki pemikiran bebas sebagaimana lingkungan barat telah membentuknya. Michelle kerap kali mengkritik dan mempertanyakan kebudayaan Saudi dan keyakinan agama yang ia anggap irrelevant, ortodok dan membatasi ruang privasi individu. Kisah cintanya juga kandas karena Faisal, lelaki yang ia anggap berpikiran modern dan terbuka pada akhirnya harus tunduk pada keputusan keluarga.

Sementara itu Lumeis Jadawy, mahasiswi kedokteran yang pandai meramal kartu ini termasuk yang paling mulus kehidupannya dibanding tiga sahabatnya yang lain. Ia mendapatkan cinta dari Nizar, mahasiswa sefakultas, lulus dengan predikat terbaik serta akhirnya menikah dan hidup bahagia.

Kalau impian penulis buku ini adalah untuk menjadi terkenal, maka impiannya terpenuhi. Kalau pesan yang ingin ia sampaikan adalah membuka kultur Saudi yang keras pada perempuan, maka impiannya juga telah terpenuhi. Ketika pertama kali beredar di negerinya, buku ini bahkan sempat dicekal, namun semakin kontroversi sebuah buku maka ia akan semakin banyak dikenal dan dicari. Meskipun dalam sisi “kejujuran si penulis untuk mengungkapkan keadaan di negerinya” patut dihargai, tentang keberaniannya menceritakan kultur yang sekian lama dianggap tabu oleh masyarakat dimana perempuan dianggap sebagai mahluk kelas dua yang harus selalu menurut tanpa boleh berpendapat. Namun menurutku tidak semua yang digambarkan oleh penulis dalam ceritanya adalah benar ataupun patut dimaklumi.

Penulis mungkin berusaha untuk menyebarkan pemikiran demokratis dan hak bagi kaum perempuan, bagaimana perempuan seharusnya juga dimintai pendapat saat ia hendak menikah sehingga tidak terjadi seperti kasus Qamrah. Aku pribadi juga setuju karena memang dalam ajaran agama islam juga begitu, seseorang yang hendak menikah disarankan untuk melihat pasangannya. Juga stereotip negatif bagi para janda dimana mereka justru menjadi pihak yang disalahkan sementara laki-laki melenggang santai tanpa harus menanggung aib. Namun pada beberapa hal lain dalam cerita ini kurang setuju termasuk cara mereka bergaul yang bebas, pola pikir yang aneh dan khitbah ngaco ala Shedim. Penulis beragama islam, dan dalam bukunya ia banyak mengutip ayat-ayat Al Quran, maka aku juga akan menyatakan ketidaksepahamanku dengan pemikiran penulis dari sudut pandang agama.

Kenapa aku bilang mereka menerapkan pergaulan yang bebas, lihatlah kalimat ini yang menggambarkan aktifitas mereka saat berpesta,

“Malam itu Michelle dan Lumeis menikmati keceriaan dengan minuman alkohol berkelas milik ayahnya.” (hal: 26)

Keempat sahabat ini juga masih mempercayai ramalan bintang (zodiak). Mengherankan, si penulis berusaha untuk menunjukkan modernitas pada pembacanya dengan berkiblat pada kebudayaan barat tapi ternyata masih percaya saja pada ramalan bintang yang sebenarnya hanyalah Pseudoscience. Padahal jelas-jelas mereka adalah perempuan-perempuan yang berpendidikan. Bukankah modernitas juga diukur dari cara berfikir?

Sementara itu ntuk ukuran perempuan yang dikatakan pandai seperti Shedim, mengecap bangku kuliah dengan prestasi bagus, aku menemukan missing link dalam cara berpikirnya.

“Biasanya kunjungan dimulai setelah shalat isya dan Walid tidak kembali pulang sebelum jam dua dini hari…. Mungkin mereka terbawa gairah film yang mereka tonton bersama. Malampun berlalu dengan hangatnya ciuman di bibir gadis itu.” (hal: 39)

Mereka yang tahu malu dan paham agama pantaskah melakukan hal seperti itu? Sudah jelas laki-laki dan perempuan dilarang berduaan di tempat yang sepi, dilarang bersentuhan. Malah mereka berduaan dari sore sampai dini hari dan melakukan ciuman. Jangankan di Saudi, di Indonesiapun kalau seperti ini juga pasti bakalan jadi gunjingan tetangga. Oh ya lupa, penulis kan memprotes tradisi yang dianggap ortodok ini ya, mungkin dia maunya yang seperti ini dibebaskan karena merupakan hak pribadi, penulis agamanya apa ya? (mendadak lupa) :)

“Gadis itupun bertekad untuk memberikan yang terbaik pada kekasihnya malam itu. Ia ingin menyerahkan segala yang dimiliki sebagai hadiah atas kerelaan menunda pernikahan… Shedim telah lama mempunyai keyakinan bahwa dia tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangannya bila tidak mempersembahkan dirinya seutuhnya” (hal: 40)

Berduaan saja tidak boleh “dan janganlah kamu mendekati zina…”, Shedim malah dengan sengaja menyerahkan kehormatannya sebelum ia menikah dengan alasan cinta. Namun lihatlah reaksi Shedim ketika Walid meninggalkannya setelah ia menyerahkan kehormatannya tersebut.

“Bukankah Shedim telah resmi menjadi istrinya, dan berarti halal melakukan apa saja? Apakah karena belum ada ijab kabul dan saksi? Shedim sama sekali tidak tahu jawaban semua pertanyaannya.” (hal: 43)

Perhatikan kalimat Apakah karena belum ada ijab kabul dan saksi? Ya jelas rukunnya menikah kan adanya ijab kabul dan saksi, selama itu belum terpenuhi otomatis mereka belum boleh berhubungan fisik. Sebenarnya tak perlu menggunakan kacamata agama, bagi perempuan yang berpikir mereka tidak akan menyerahkan kehormatannya pada laki-laki walaupun itu calonnya sendiri sebelum ada ijab kabul dan hitam di atas putih. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi setelah mereka menyerahkan kehormatannya? Bukan kemudian meragukan lelaki, namun lebih sebagai kewaspadaan dan proteksi pada diri perempuan sendiri. Sebab bagaimanapun juga pihak yang nantinya akan menanggung penderitaan itu juga perempuan lagi, belum lagi kalau kemudian hamil padahal si lelaki tidak jadi menikahinya. Kalaupun ada sebagian yang berpendapat bahwa itu karena cinta dan mereka paham akan resiko dari perbuatannya tersebut, ya sudah berhentilah menyalahkan sang lelaki karena bagaimanapun yang paling salah adalah dia sendiri karena telah percaya begitu saja dan memberikan peluang pada lelaki untuk melakukannya. Dan saat lelaki itu perni meninggalkan, you dont have any evidences, perempuan tak bisa menggugat!

Pada salah satu chapter diceritakan tentang kelanjutan kehidupan Shedim pasca putus dengan Walid. Ia akhirnya jatuh cinta pada Faraz, namun kisah mereka akhirnya juga harus kandas. Saat Faraz menyatakan bahwa ia hendak menikah dengan perempuan lain, Shedimpun marah. Shedim kacau total, sholat telat, tidak lagi pakai jilbab, bahkan sempat berpikir hendak menjadi rahib pula. Shedim mengakui kalau apa yang ia lakukan semata karena menyesuaikan dengan Faraz. Inilah salahnya, beribadah yang diniatkan karena mengikuti orang lain bukan karena kesadaran. Maka saat ia kecewa dan mengalami antiklimaks, ia tidak lagi beribadah.

“Seperti biasa, pada setiap perjalanan kembali ke negaranya, Shedim melepas sabuk pengaman dan menuju toilet pesawat untuk mengenakan abaya-nya… Pada saat itu, antrian di depan toilet terlalu panjang. Tujuan mereka sama: menyesuaikan diri dengan pakaian Saudi. Para penumpang laki-laki juga sama. Mereka juga berusaha mengenakan pakaian laki-laki Saudi dan meninggalkan kostum luar negrinya.” (hal: 158)

Inikah rahasia umum sebenarnya di Saudi? Jadi mereka hanya berpakaian abaya jika sampai di Saudi dan meninggalkan pakaian itu jika berada di luar negri. Termasuk melepas kerudung? Katakanlah bukan kultur, namun implementasi atas agamanya saja rasanya diragukan. Inikah sahabat yang dibanggakan oleh penulis? :)

“Kabel dan jaringan telepon di negeri ini telah sedemikian luas, dan itu melebihi yang bisa disediakan dibeberapa negara lainnya. Mungkin kebijakan telekomunikasi ini sengaja dilakukan untuk menjamin terjalinnya semacam interaksi terutama ketika kerinduan, desah, keluh kesah, pelukan, dan ciuman tidak mungkin dilakukan secara langsung yang disebabkan ketatnya ikatan dan ajaran agama. Selain ajaran agama, nilai dan tradisi sosial di negeri ini juga melarang dilakukannya hal tersebut.” (hal 193)

Dengan tedeng menjamin terjalinnya semacam interaksi lalu boleh melakukan desah, pelukan, ciuman walaupun hanya simbolik dari gagang telepon?

Belum lagi bagaimana kelakuan Michelle saat membalas dendam atas perlakuan keluarga Faishal yang telah menolak Michelle. Datang ke pesta pernikahan bukan dengan tujuan mendoakan tapi justru dendam. Berlaku seolah menggoda dan mengejek istri Faishal walau secara tak langsung. Dimanakah hati nurani Michelle, apa yang ia rasakan jika ia berada pada posisi istri Faishal? Katakanlah kalau memang tidak berjodoh dengannya ya sudah, tidak perlulah menyakiti hati yang lain. Lantas sekarang apa bedanya kelakuan Michelle dengan Faishal sendiri?

“Michelle tahu bahwa sebagian besar suami menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya. Mereka menyembunyikan hati yang gelisah dalam memilih pasangan hidupnya. Kegelisahan itu lahir dari kenyataan bahwa disepanjang hidup, mereka akan menemukan wanita yang lebih cantik dari perempuan yang dinikahinya. Kalau malam itu Michelle akan menangis, tangisan itu dipersembahkan untuk mengasihani pengantin perempuan yang malang. Istri Faishal akan menjalani hidup bersama laki-laki yang tidak sepenuh hati memperistrinya, sebab lamunan Faishal akan terbang menuju penari yang berjoget ala saudi di pernikahannya. (hal: 309)

Dalam sebuah syair pendahuluan tertulis:
Kutulis tentang para wanita sahabatku,
Satu persatu
Semuanya
Dalam diri mereka kutemukan jiwaku

Sejujurnya aku heran, sahabat-sahabat yang punya pemikiran dan sifat seperti ini yang dibanggakan oleh penulis? Yang beberapa bahkan jelas-jelas menyimpang dari ajaran agamanya: mabuk, khalwat, berzina. Bahkan dalam bait ‘dalam diri mereka kutemukan jiwaku’, mengakui bahwa dirinya juga sama dengan mereka? Wow amazing, kemana larinya ayat-ayat yang ia kutip dalam awal chapter-chapternya?

Termasuk pencitraan perempuan yang selalu terkekang, gagal dalam berhubungan dan dominasi lelaki yang semena-mena membuatku sempat berpikiran buruk terhadap lelaki dan betapa sengsaranya sebuah pernikahan. “jangan-jangan besok juga gitu, jangan-jangan smua laki-laki juga gitu”. Padahal setelah ditelaah lagi kondisi itu justru sebenarnya muncul dari pola interaksi tak sehat.

Mungkin ini adalah pendapatku yang paling panjang mengenai sebuah buku dan tulisanku pasti akan nampak ‘konservatif’ karena membawa-bawa agama. Tadinya aku hanya akan mengulasnya secara general tapi kutipan ayat-ayat yang dimasukkan penulis dalam awalan chapternya membuatku terusik. Sekalipun dalam sebuah halaman ia sempat berujar bahwa ia telah berusaha menuliskannya dengan sudut pandang universal sehingga membuat tulisannya menjadi bebas nilai. Penulis lupa bahwa tak ada wacana yang bebas nilai, subyektifitas selalu mengikuti cara berpikir dan tulisan individu, termasuk bukunya dan juga ulasan ini. Boleh jadi ia benar dan bisa saja aku tak salah.

Akhirnya toh, pembaca boleh menyimpulkan pendapatnya sendiri. Anda juga berhak menilai. Selamat membaca.

* Gambar diambil dari google
* Ebook diberi oleh Riz (panjang dan sedikit membosankan isinya :d)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.