Pengarang: Ucu Agustin
Penerbit: Matahari – Jogjakarta
Cetakan: April 2005
Kanakar adalah bisik lirih seumpama bujuk pagi yang menyelusup lembut di hitam malam untuk pelan-pelan menguasai dan mengambil alih tahta dengan bantuan sinar fajar. Kanakar adalah saat bening embun di pagi bulan Januari yang berseri kehilangan pamor dan menjadi malu saat…(Kanakar, hal: 39)
Kanakar adalah sebuah kumpulan cerpen karya Ucu Agustin yang hampir setiap ceritanya banyak diwarnai dengan menggunakan kata bersayap. Ucu Agustin mendeskripsikan setiap moment dengan apik lewat kalimat-kalimat metafora yang menurutku tidak terkesan ‘jayus’ sebagaimana yang seringkali kubaca pada beberapa cerita karangan penulis lain.
18 cerita pendek yang ada dalam buku ini sebagian bercerita tentang fenomena sosial yang ada di sekitar manusia, namun dikemas dalam bentuk yang imajinatif dan satir malah. Menggabungkan antara tinggi imajinasi, dongeng, sejarah, dan perbedaan waktu lampau – modern yang rapi, Ucu Agustin kerap menyindir persoalan kemanusiaan yang sering kita temui.
Dalam kisah ‘Perempuan Yang Menangis’, penulis menuturkan kebiasaan yang sampai sekarang masih ada di Indonesia tentang pernikahan perjodohan anak-anak dibawah umur. Mengambil latar kota Bangil dan dunia pesantren, kita lihat bagaimana Umi mati-matian menolak perjodohannya dengan Gus Man, seorang kyai, calon pewaris pondok bapaknya. Perjodohan yang katanya akan mampu mengangkat harkat martatab keluarga ini lalu dialihkan pada Aisyah, adiknya, sementara Umi sendiri bertekad untuk melanjutkan sekolahnya. Saat menikah, Aisyah berumur 15 tahun. Namun apa yang terjadi 8 tahun pasca pernikahannya? Dalam usianya yang masih 23 tahun, ia harus menjadi janda dengan kewajiban mengasuh dan membesarkan 4 anaknya yang masih kecil!
Bukan hanya isi ceritanya yang menarik, namun gaya bahasa yang digunakan juga memancingku untuk tidak meninggalkan tempat, apalagi menutup bukunya sampai semua telah selesai dibaca. Meski kadang nampak terkesan abstrak namun tidak mengurangi inti cerita yang hendak ia sampaikan. Bacalah sendiri dan kalian akan paham apa yang aku maksudkan. Secara pribadi, aku menyukai kumpulan cerpen ini. Ya, aku memang selalu menyukai kumpulan cerpen, sebab aku bisa mendapatkan ragam cerita dalam satu buku. Namun Kanakar kupikir bisa diletakkan di atas yang lain, sebab pada kisah ‘Perempuan Yang Melahirkan Hujan’ aku telah jatuh cinta pada buku ini untuk pertama kalinya.
* Gambar (lagi-lagi) diambil dari Google
* Buku (lagi-lagi) pinjaman dari Hanhunz, makasih lagi ya say…



Ucu Agustin itu yang pembuat film dokumenter itu bukan? Buku ini terbit tahun berapa?
By: Lutfi Retno Wahyudyanti on June 6, 2011
at 8:32 am
Iya, Ucu Agustin yang itu. Kalau dari buku pinjeman ini sih keliatan dari tahun cetak pertamanya April 2005, sekitar 6 tahun yang lalu haha! ^_^
By: perdu on June 10, 2011
at 3:58 am