<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bunga Perdu</title>
	<atom:link href="http://bungaperdu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bungaperdu.wordpress.com</link>
	<description>...bilakah sebentuk bunga sederhana mampu membuktikan keindahan maha keindahan?</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Jun 2011 04:12:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bungaperdu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bunga Perdu</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bungaperdu.wordpress.com/osd.xml" title="Bunga Perdu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bungaperdu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kanakar</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/06/05/kanakar/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/06/05/kanakar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 07:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[kemanusiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Pengarang: Ucu Agustin Penerbit: Matahari &#8211; Jogjakarta Cetakan: April 2005 Kanakar adalah bisik lirih seumpama bujuk pagi yang menyelusup lembut di hitam malam untuk pelan-pelan menguasai dan mengambil alih tahta dengan bantuan sinar fajar. Kanakar adalah saat bening embun di pagi bulan Januari yang berseri kehilangan pamor dan menjadi malu saat&#8230;(Kanakar, hal: 39) Kanakar adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=219&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/06/5262592.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/06/5262592.jpg?w=98&#038;h=148" alt="" title="Kanakar" width="98" height="148" class="aligncenter size-full wp-image-220" /></a></p>
<p>Pengarang: Ucu Agustin<br />
Penerbit: Matahari &#8211; Jogjakarta<br />
Cetakan: April 2005</p>
<p><em>Kanakar adalah bisik lirih seumpama bujuk pagi yang menyelusup lembut di hitam malam untuk pelan-pelan menguasai dan mengambil alih tahta dengan bantuan sinar fajar.  Kanakar adalah saat bening embun di pagi bulan Januari yang berseri kehilangan pamor dan menjadi malu saat&#8230;(Kanakar, hal: 39)</em><br />
<span id="more-219"></span><br />
Kanakar adalah sebuah kumpulan cerpen karya Ucu Agustin yang hampir setiap ceritanya banyak diwarnai dengan menggunakan kata bersayap. Ucu Agustin mendeskripsikan setiap moment dengan apik lewat kalimat-kalimat metafora yang menurutku tidak terkesan <em>‘jayus’</em> sebagaimana yang seringkali kubaca pada beberapa cerita karangan penulis lain.</p>
<p>18 cerita pendek yang ada dalam buku ini sebagian bercerita tentang fenomena sosial yang ada di sekitar manusia, namun dikemas dalam bentuk yang imajinatif dan satir malah. Menggabungkan antara tinggi imajinasi, dongeng, sejarah, dan perbedaan waktu lampau &#8211; modern yang rapi, Ucu Agustin kerap menyindir persoalan kemanusiaan yang sering kita temui. </p>
<p>Dalam kisah <em>‘Perempuan Yang Menangis’,</em> penulis menuturkan kebiasaan yang sampai sekarang masih ada di Indonesia tentang pernikahan perjodohan anak-anak dibawah umur. Mengambil latar kota Bangil dan dunia pesantren, kita lihat bagaimana Umi mati-matian menolak perjodohannya dengan Gus Man, seorang kyai, calon pewaris pondok bapaknya. Perjodohan yang katanya akan mampu mengangkat harkat martatab keluarga ini lalu dialihkan pada Aisyah, adiknya, sementara Umi sendiri bertekad untuk melanjutkan sekolahnya. Saat menikah, Aisyah berumur 15 tahun. Namun apa yang terjadi 8 tahun pasca pernikahannya? Dalam usianya yang masih 23 tahun, ia harus menjadi janda dengan kewajiban mengasuh dan membesarkan 4 anaknya yang masih kecil!</p>
<p>Bukan hanya isi ceritanya yang menarik, namun gaya bahasa yang digunakan juga memancingku untuk tidak meninggalkan tempat, apalagi menutup bukunya sampai semua telah selesai dibaca. Meski kadang nampak terkesan abstrak namun tidak mengurangi inti cerita yang hendak ia sampaikan. Bacalah sendiri dan kalian akan paham apa yang aku maksudkan. Secara pribadi, aku menyukai kumpulan cerpen ini. Ya, aku memang selalu menyukai kumpulan cerpen, sebab aku bisa mendapatkan ragam cerita dalam satu buku. Namun <em>Kanakar</em> kupikir bisa diletakkan di atas yang lain, sebab pada kisah <em>‘Perempuan Yang Melahirkan Hujan’</em> aku telah jatuh cinta pada buku ini untuk pertama kalinya.</p>
<p><em>* Gambar (lagi-lagi) diambil dari Google<br />
* Buku (lagi-lagi) pinjaman dari Hanhunz, makasih lagi ya say&#8230;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=219&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/06/05/kanakar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/06/5262592.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kanakar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Girls of Riyadh</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/06/02/the-girls-of-riyadh/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/06/02/the-girls-of-riyadh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 14:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Pengarang: Rajaa Al Sanea Penerbit: Ufuk Publishing House Cetakan: Cetakan I Desember 2007 Buku ini pernah populer sekitar tahun 2008. Dan waktu itu aku tidak pernah berniat membacanya. Kenapa? Melihat dari resensi-resensi yang diberikan oleh media cetak ya paling-paling isinya tidak lebih tentang kesetaraan gender dan gugatan terhadap tradisi di Saudi sana. Apa yang salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=214&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/06/hmmm.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/06/hmmm.jpg?w=197&#038;h=300" alt="" title="hmmm" width="197" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-215" /></a></p>
<p>Pengarang: Rajaa Al Sanea<br />
Penerbit: Ufuk Publishing House<br />
Cetakan: Cetakan I Desember 2007</p>
<p>Buku ini pernah populer sekitar tahun 2008. Dan waktu itu aku tidak pernah berniat membacanya. Kenapa? Melihat dari resensi-resensi yang diberikan oleh media cetak ya paling-paling isinya tidak lebih tentang kesetaraan gender dan gugatan terhadap tradisi di Saudi sana. Apa yang salah dengan kesetaraan gender? Tidak ada. Hanya aku terlalu malas mendebatkan topik yang biasanya dalam kehidupan sehari-hari menjadi topik debat kusir. Sampai tiga tahun berselang, 2011, beberapa hari yang lalu, saat didera kebosanan, seorang teman menawarkan ebook ini dan mulailah aku membaca dengan (sedikit) ogah-ogahan. </p>
<p>Kenapa buku ini menjadi best seller?<span id="more-214"></span> Pointnya terletak pada keberanian penulisnya dalam mengungkap tradisi masyarakat Saudi yang selama ini dianggap tabu. Bermula dari kebiasaannya mengirimkan email setiap hari Jumat pada sebuah mailing list  seerehTve7ifa4ha7net@yahoogroups.com. Email tersebut menceritakan tentang kisah nyata kehidupan empat orang sahabatnya dalam mencari cinta (?).</p>
<p>Qamrah El Qashmany, perempuan yang dinikahkan keluarganya dengan Rasyid lelaki dari keluarga terhormat. Malangnya kehidupan rumah tangganya harus kandas karena Rasyid memiliki affair dengan wanita lain sementara ia dipulangkan ke Saudi dan dicerai dalam keadaan hamil. </p>
<p>Shedim El Harimly, perempuan ini ditunangkan dengan Walid yang juga merupakan lelaki terhormat. Shedim yang dalam buku ini diceritakan sebagai perempuan yang pandai namun pada kenyataannya juga mengalami cerita tak kalah menyedihkan dibanding Qamrah. Walid membatalkan pertunangan mereka justru di saat Shedim telah menyerahkan kehormatannya untuk lelaki tersebut.</p>
<p>Michelle El Abdul Rahman, perempuan berdarah Arab – Amerika yang memiliki pemikiran bebas sebagaimana lingkungan barat telah membentuknya. Michelle kerap kali mengkritik dan mempertanyakan kebudayaan Saudi dan keyakinan agama yang ia anggap irrelevant, ortodok dan membatasi ruang privasi individu. Kisah cintanya juga kandas karena Faisal, lelaki yang ia anggap berpikiran modern dan terbuka pada akhirnya harus tunduk pada keputusan keluarga.</p>
<p>Sementara itu Lumeis Jadawy, mahasiswi kedokteran yang pandai meramal kartu ini termasuk yang paling mulus kehidupannya dibanding tiga sahabatnya yang lain. Ia mendapatkan cinta dari Nizar, mahasiswa sefakultas, lulus dengan predikat terbaik serta akhirnya menikah dan hidup bahagia.</p>
<p>Kalau impian penulis buku ini adalah untuk menjadi terkenal, maka impiannya terpenuhi. Kalau pesan yang ingin ia sampaikan adalah membuka kultur Saudi yang keras pada perempuan, maka impiannya juga telah terpenuhi. Ketika pertama kali beredar di negerinya, buku ini bahkan sempat dicekal, namun semakin kontroversi sebuah buku maka ia akan semakin banyak dikenal dan dicari. Meskipun dalam sisi “kejujuran si penulis untuk mengungkapkan keadaan di negerinya” patut dihargai, tentang keberaniannya menceritakan kultur yang sekian lama dianggap tabu oleh masyarakat dimana perempuan dianggap sebagai mahluk kelas dua yang harus selalu menurut tanpa boleh berpendapat. Namun menurutku tidak semua yang digambarkan oleh penulis dalam ceritanya adalah benar ataupun patut dimaklumi. </p>
<p>Penulis mungkin berusaha untuk menyebarkan pemikiran demokratis dan hak bagi kaum perempuan, bagaimana perempuan seharusnya juga dimintai pendapat saat ia hendak menikah sehingga tidak terjadi seperti kasus Qamrah. Aku pribadi juga setuju karena memang dalam ajaran agama islam juga begitu, seseorang yang hendak menikah disarankan untuk melihat pasangannya. Juga stereotip negatif bagi para janda dimana mereka justru menjadi pihak yang disalahkan sementara laki-laki melenggang santai tanpa harus menanggung aib. Namun pada beberapa hal lain dalam cerita ini kurang setuju termasuk cara mereka bergaul yang bebas, pola pikir yang aneh dan khitbah ngaco ala Shedim. Penulis beragama islam, dan dalam bukunya ia banyak mengutip ayat-ayat Al Quran, maka aku juga akan menyatakan ketidaksepahamanku dengan pemikiran penulis dari sudut pandang agama.</p>
<p>Kenapa aku bilang mereka menerapkan pergaulan yang bebas, lihatlah kalimat ini yang menggambarkan aktifitas mereka saat berpesta,</p>
<p><em>“Malam itu Michelle dan Lumeis menikmati keceriaan dengan minuman alkohol berkelas milik ayahnya.” (hal: 26) </em></p>
<p>Keempat sahabat ini juga masih mempercayai ramalan bintang (zodiak). Mengherankan, si penulis berusaha untuk menunjukkan modernitas pada pembacanya dengan berkiblat pada kebudayaan barat tapi ternyata masih percaya saja pada ramalan bintang yang sebenarnya hanyalah Pseudoscience. Padahal jelas-jelas mereka adalah perempuan-perempuan yang berpendidikan. Bukankah modernitas juga diukur dari cara berfikir?</p>
<p>Sementara itu ntuk ukuran perempuan yang dikatakan pandai seperti Shedim, mengecap bangku kuliah dengan prestasi bagus, aku menemukan missing link dalam cara berpikirnya.</p>
<p><em>“Biasanya kunjungan dimulai setelah shalat isya dan Walid tidak kembali pulang sebelum jam dua dini hari&#8230;. Mungkin mereka terbawa gairah film yang mereka tonton bersama. Malampun berlalu dengan hangatnya ciuman di bibir gadis itu.” (hal: 39)</em></p>
<p>Mereka yang tahu malu dan paham agama pantaskah melakukan hal seperti itu? Sudah jelas laki-laki dan perempuan dilarang berduaan di tempat yang sepi, dilarang bersentuhan. Malah mereka berduaan dari sore sampai dini hari dan melakukan ciuman. Jangankan di Saudi, di Indonesiapun kalau seperti ini juga pasti bakalan jadi gunjingan tetangga. Oh ya lupa, penulis kan memprotes tradisi yang dianggap ortodok ini ya, mungkin dia maunya yang seperti ini dibebaskan karena merupakan hak pribadi, penulis agamanya apa ya? (mendadak lupa) <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>“Gadis itupun bertekad untuk memberikan yang terbaik pada kekasihnya malam itu. Ia ingin menyerahkan segala yang dimiliki sebagai hadiah atas kerelaan menunda pernikahan&#8230; Shedim telah lama mempunyai keyakinan bahwa dia tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangannya bila tidak mempersembahkan dirinya seutuhnya” (hal: 40)</em></p>
<p>Berduaan saja tidak boleh “dan janganlah kamu mendekati zina&#8230;”, Shedim malah dengan sengaja menyerahkan kehormatannya sebelum ia menikah dengan alasan cinta. Namun lihatlah reaksi Shedim ketika Walid meninggalkannya setelah ia menyerahkan kehormatannya tersebut.</p>
<p><em>“Bukankah Shedim telah resmi menjadi istrinya, dan berarti halal melakukan apa saja? Apakah karena belum ada ijab kabul dan saksi? Shedim sama sekali tidak tahu jawaban semua pertanyaannya.” (hal: 43)</em></p>
<p>Perhatikan kalimat Apakah karena belum ada ijab kabul dan saksi? Ya jelas rukunnya menikah kan adanya ijab kabul dan saksi, selama itu belum terpenuhi otomatis mereka belum boleh berhubungan fisik. Sebenarnya tak perlu menggunakan kacamata agama, bagi perempuan yang berpikir mereka tidak akan menyerahkan kehormatannya pada laki-laki walaupun itu calonnya sendiri sebelum ada ijab kabul dan hitam di atas putih. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi setelah mereka menyerahkan kehormatannya? Bukan kemudian meragukan lelaki, namun lebih sebagai kewaspadaan dan proteksi pada diri perempuan sendiri. Sebab bagaimanapun juga pihak yang nantinya akan menanggung penderitaan itu juga perempuan lagi, belum lagi kalau kemudian hamil padahal si lelaki tidak jadi menikahinya. Kalaupun ada sebagian yang berpendapat bahwa itu karena cinta dan mereka paham akan resiko dari perbuatannya tersebut, ya sudah berhentilah menyalahkan sang lelaki karena bagaimanapun yang paling salah adalah dia sendiri karena telah percaya begitu saja dan memberikan peluang pada lelaki untuk melakukannya. Dan saat lelaki itu perni meninggalkan, you dont have any evidences, perempuan tak bisa menggugat!</p>
<p>Pada salah satu chapter diceritakan tentang kelanjutan kehidupan Shedim pasca putus dengan Walid. Ia akhirnya jatuh cinta pada Faraz, namun kisah mereka akhirnya juga harus kandas. Saat Faraz menyatakan bahwa ia hendak menikah dengan perempuan lain, Shedimpun marah. Shedim kacau total, sholat telat, tidak lagi pakai jilbab, bahkan sempat berpikir hendak menjadi rahib pula. Shedim mengakui kalau apa yang ia lakukan semata karena menyesuaikan dengan Faraz. Inilah salahnya, beribadah yang diniatkan karena mengikuti orang lain bukan karena kesadaran. Maka saat ia kecewa dan mengalami antiklimaks, ia tidak lagi beribadah. </p>
<p><em>“Seperti biasa,  pada setiap perjalanan kembali ke negaranya, Shedim melepas sabuk pengaman dan menuju toilet pesawat untuk mengenakan abaya-nya&#8230; Pada saat itu, antrian di depan toilet terlalu panjang. Tujuan mereka sama: menyesuaikan diri dengan pakaian Saudi. Para penumpang laki-laki juga sama. Mereka juga berusaha mengenakan pakaian laki-laki Saudi dan meninggalkan kostum luar negrinya.” (hal: 158)</em></p>
<p>Inikah rahasia umum sebenarnya di Saudi? Jadi mereka hanya berpakaian abaya jika sampai di Saudi dan meninggalkan pakaian itu jika berada di luar negri. Termasuk melepas kerudung? Katakanlah bukan kultur, namun implementasi atas agamanya saja rasanya diragukan. Inikah sahabat yang dibanggakan oleh penulis? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>“Kabel dan jaringan telepon di negeri ini telah sedemikian luas, dan itu melebihi yang bisa disediakan dibeberapa negara lainnya. Mungkin kebijakan telekomunikasi ini sengaja dilakukan untuk menjamin terjalinnya semacam interaksi terutama ketika kerinduan, desah, keluh kesah, pelukan, dan ciuman tidak mungkin dilakukan secara langsung yang disebabkan ketatnya ikatan dan ajaran agama. Selain ajaran agama, nilai dan tradisi sosial di negeri ini juga melarang dilakukannya hal tersebut.” (hal 193)</em> </p>
<p>Dengan tedeng menjamin terjalinnya semacam interaksi lalu boleh melakukan desah, pelukan, ciuman walaupun hanya simbolik dari gagang telepon? </p>
<p>Belum lagi bagaimana kelakuan Michelle saat membalas dendam atas perlakuan keluarga Faishal yang telah menolak Michelle. Datang ke pesta pernikahan bukan dengan tujuan mendoakan tapi justru dendam. Berlaku seolah menggoda dan mengejek istri Faishal walau secara tak langsung. Dimanakah hati nurani Michelle, apa yang ia rasakan jika ia berada pada posisi istri Faishal? Katakanlah kalau memang tidak berjodoh dengannya ya sudah, tidak perlulah menyakiti hati yang lain. Lantas sekarang apa bedanya kelakuan Michelle dengan Faishal sendiri?</p>
<p><em>“Michelle tahu bahwa sebagian besar suami menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya. Mereka menyembunyikan hati yang gelisah dalam memilih pasangan hidupnya. Kegelisahan itu lahir dari kenyataan bahwa disepanjang hidup, mereka akan menemukan wanita yang lebih cantik dari perempuan yang dinikahinya. Kalau malam itu Michelle akan menangis, tangisan itu dipersembahkan untuk mengasihani pengantin perempuan yang malang. Istri Faishal akan menjalani hidup bersama laki-laki yang tidak sepenuh hati memperistrinya, sebab lamunan Faishal akan terbang menuju penari yang berjoget ala saudi di pernikahannya. (hal: 309)</em></p>
<p>Dalam sebuah syair pendahuluan tertulis:<br />
<em>Kutulis tentang para wanita sahabatku,<br />
Satu persatu<br />
Semuanya<br />
Dalam diri mereka kutemukan jiwaku</em></p>
<p>Sejujurnya aku heran, sahabat-sahabat yang punya pemikiran dan sifat seperti ini yang dibanggakan oleh penulis? Yang beberapa bahkan jelas-jelas menyimpang dari ajaran agamanya: mabuk, khalwat, berzina. Bahkan dalam bait <em>&#8216;dalam diri mereka kutemukan jiwaku&#8217;</em>, mengakui bahwa dirinya juga sama dengan mereka? Wow amazing, kemana larinya ayat-ayat yang ia kutip dalam awal chapter-chapternya? </p>
<p>Termasuk pencitraan perempuan yang selalu terkekang, gagal dalam berhubungan  dan dominasi lelaki yang semena-mena membuatku sempat berpikiran buruk terhadap lelaki dan betapa sengsaranya sebuah pernikahan. <em>“jangan-jangan besok juga gitu, jangan-jangan smua laki-laki juga gitu”.</em> Padahal setelah ditelaah lagi kondisi itu justru sebenarnya muncul dari pola interaksi tak sehat. </p>
<p>Mungkin ini adalah pendapatku yang paling panjang mengenai sebuah buku dan tulisanku pasti akan nampak &#8216;konservatif&#8217; karena membawa-bawa agama. Tadinya aku hanya akan mengulasnya secara general tapi kutipan ayat-ayat yang dimasukkan penulis dalam awalan chapternya membuatku terusik. Sekalipun dalam sebuah halaman ia sempat berujar bahwa ia telah berusaha menuliskannya dengan sudut pandang universal sehingga membuat tulisannya menjadi bebas nilai. Penulis lupa bahwa tak ada wacana yang bebas nilai, subyektifitas selalu mengikuti cara berpikir dan tulisan individu, termasuk bukunya dan juga ulasan ini. Boleh jadi ia benar dan bisa saja aku tak salah.</p>
<p>Akhirnya toh, pembaca boleh menyimpulkan pendapatnya sendiri. Anda juga berhak menilai. Selamat membaca.</p>
<p><em>* Gambar diambil dari google<br />
* Ebook diberi oleh Riz (panjang dan sedikit membosankan isinya :d)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=214&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/06/02/the-girls-of-riyadh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/06/hmmm.jpg?w=197" medium="image">
			<media:title type="html">hmmm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jakarta Kafe</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/05/28/jakarta-kafe/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/05/28/jakarta-kafe/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 01:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Pengarang: Tatyana Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Cetak: 2004 Apa yang selalu identik dengan cafe? Mungkin kopi, kue-kue, musik, obrolan ringan, dan ketenangan. Cafe memiliki ciri khas seperti halnya tempat-tempat lainnya, dan Tatyana mengusung cafe dan sebagai &#8216;bahan dasar&#8217; ceritanya seperti hendak menyajikan kekhasan tersebut. Tujuh belas cerita pendek, ringan, renyah, tanpa beban. Dengan gaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=209&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/05/jakarta-cafe.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/05/jakarta-cafe.jpg?w=176&#038;h=300" alt="" title="jakarta cafe" width="176" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-210" /></a></p>
<p>Pengarang: Tatyana<br />
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama<br />
Tahun Cetak: 2004</p>
<p>Apa yang selalu identik dengan cafe? Mungkin kopi, kue-kue, musik, obrolan ringan, dan ketenangan. Cafe memiliki ciri khas seperti halnya tempat-tempat lainnya, dan Tatyana mengusung cafe dan sebagai &#8216;bahan dasar&#8217; ceritanya seperti hendak menyajikan kekhasan tersebut.<br />
<span id="more-209"></span><br />
Tujuh belas cerita pendek, ringan, renyah, tanpa beban. Dengan gaya cerita yang mengalir mengajak pembaca untuk rileks sambil tetap menikmati alur cerita. Tak berat namun bukan berarti tak harus berpikir, dengan sudut pandang utama dari kacamata perempuan, kumpulan cerpen ini justru mampu membuka insight baru dan banyak hal yang seringkali dianggap sepele dan terlupakan. Canggungnya reunian dengan teman lama (yang spesial), tentang keluarga, lalu mereka-mereka yang single happy, atau hanya sekedar moment numpang lewat di bus kota- membuat kita tersenyum, mengerutkan dahi, mengangguk dan bahkan tercenung sendiri.</p>
<p>Jakarta Cafe dan kehidupan pribadi di dalamnya, hadir mungkin untuk membuat kita berkaca karena barangkali cerita kita ada di sana atau jangan-jangan kita sendiri yang sedang menjadi bahan cerita. </p>
<p><em>* Gambar diambil dari google<br />
* Buku dipinjam dari Hanhunz (dan belum akan dikembalikan dalam waktu dekat), terimakasih say&#8230;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=209&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2011/05/28/jakarta-kafe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2011/05/jakarta-cafe.jpg?w=176" medium="image">
			<media:title type="html">jakarta cafe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Winter in Tokyo</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/03/10/winter-in-tokyo/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/03/10/winter-in-tokyo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 14:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[teenlit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Pengarang: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun cetak: 2008 Oke, melanjutkan edisi teenlit trilogi Iliana Han berikutnya. Yang belum pernah baca cerita awalnya silahkan baca dua postingan di bawah. Setelah Seoul dan Paris, kali ini Iliana Han memilih Tokyo sebagai setting ceritanya. Aku nggak benar-benar tau sih kenapa dia nggak pake setting Indonesia saja, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=202&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/03/images.jpeg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/03/images.jpeg?w=82&#038;h=120" alt="" title="images" width="82" height="120" class="aligncenter size-full wp-image-203" /></a></p>
<p>Pengarang: Ilana Tan<br />
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama<br />
Tahun cetak: 2008</p>
<p>Oke, melanjutkan edisi teenlit trilogi Iliana Han berikutnya. Yang belum pernah baca cerita awalnya silahkan baca dua postingan di bawah.</p>
<p>Setelah Seoul dan Paris, kali ini Iliana Han memilih Tokyo sebagai setting ceritanya. Aku nggak benar-benar tau sih kenapa dia nggak pake setting Indonesia saja, Banten atau Merauke misalnya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Yah mungkin karena dia hobi keluar negeri atau punya rencana sengaja menyimpan edisi setting Indonesia untuk bagian akhirnya. Mengingat ini adalah buku yang keluar tahun 2008 lalu, dan aku orang yang nggak update dengan teenlit, tapi kemarin waktu jalan-jalan ke Gramed kayaknya udah keluar tuh edisi terbarunya, judulnya Spring in London. *nunggu dipinjemin*<br />
<span id="more-202"></span><br />
Nah, buku ketiga ini melanjutkan ciri buku sebelumnya, memakai tokoh yang punya hubungan dengan tokoh pada buku sebelumnya. Jika di buku ke dua (Autumn in Paris) tokoh utamanya adalah Tara Dupont yang merupakan sepupu dari Sandy (Summer in Seoul). Kali ini tokoh utamanya adalah Ishida Keyko, tetangga Tatsuya Fujisawa yang merupakan kekasih dari Tara Dupont (Autumn in Paris).</p>
<p>Cerita diawali dengan kisah Ishida Keyko, penghuni apartemen 202 yang kedatangan tetangga baru seorang fotografer pindahan dari Amerika, Nishimura Kazuto. Awalnya Kazuto mengatakan bahwa kepindahannya adalah untuk mencari suasana yang berbeda, tapi akhirnya Ishida keyko mengetahui bahwa Kazuto kembali ke Jepang untuk melupakan perempuan yang dia cintai di Amerika.</p>
<p>Bagi Keyko, Kazuto adalah tetangga yang baik dan menyenangkan. Sementara bagi Kazuto, Keyko adalah perempuan yang menarik, dengannya dunia menjadi berbeda dan menjadi sempurna jika bersamanya. Kazuto menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada Keyko meskipun dia tahu bahwa Keyko masih menunggu cinta pertamanya. Saat Keyko pada akhirnya menyadari perasaannya yang sebenarnya pada Kazuto, justru saat itulah Kazuto mengalami amnesia pasca sebuah kecelakaan di malam natal. </p>
<p>Apakah akan berakhir dengan sad ending? Ini pertanyaan utama buatku setiap kali baca buku, I love sad ending story hehe. Sayangnya ternyata enggak, karena amnesia yang dialami Kazuto hanyalah amnesia sebagian. Dia hanya kehilangan ingatan barunya saat sebulan berada di Tokyo sebelum kecelakaan, praktis dia juga tidak mengingat keyko sama sekali. Sedangkan ingatan yang lama termasuk saat ia berada di Amerika masih utuh. Namun yang namanya cinta, sekalipun nggak ingat orangnya tapi perasaan itu akan terus memburunya tiap kali dia ketemu Keyko. Sampai pada akhirnya saat ingatannya pulih, diapun kembali bersama dengan Keyko. Nah, cerita selesai dengan happy ending. </p>
<p>Bagi penggemar teenlit dan cerita bahagia, buku ini mungkin akan menarik. Selamat membaca. *menguap*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=202&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/03/10/winter-in-tokyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/03/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kota dan Keruangan</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/27/kota-dan-keruangan/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/27/kota-dan-keruangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 02:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[perkotaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Nyatanya, keluasan keruangan secara fisik tidak menjamin keluasan keruangan psikologis penghuninya. Berbicara tentang kota, pastilah bayangan kita mengarah pada gedung-gedung bertingkat, jalan besar dengan lalu lintas yang ramai dipadati mobil, dan segala bentuk imajinasi gemerlapan yang ada di dalamnya. Tidak salah memang, sejak saya masih kecil, televisi hitam putih -satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=198&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Nyatanya, keluasan keruangan secara fisik tidak menjamin keluasan keruangan psikologis penghuninya.</em></p>
<p>Berbicara tentang kota, pastilah bayangan kita mengarah pada gedung-gedung bertingkat, jalan besar dengan lalu lintas yang ramai dipadati mobil, dan segala bentuk imajinasi gemerlapan yang ada di dalamnya. Tidak salah memang, sejak saya masih kecil, televisi hitam putih -satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan saya dengan dunia luar-, hampir-hampir selalu menayangkan kota dalam sisi yang mewah. Sebagai seorang anak desa yang kanan-kirinya hanya dikelilingi sawah dan sungai, gedung bertingkat adalah hal yang luar biasa, dan karena itu membuat saya sangat ingin merasakan bagaimana sensasi berdiri di atas gedung yang paling tinggi seperti yang nampak dalam televisi.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian, impian kecil sayapun tercapai, meski hanya di lantai paling atas sebuah mall di kota metropolitan. Bukan gedung yang paling tinggi, tapi kemungkinan rasanya tidak akan beda, biasa saja. Lambat laun sayapun juga menyadari mengapa kenampakan kota begitu berbeda dengan desa dipandang dari segi fisik bangunan. Mengapa ada begitu banyak gedun-gedung tinggi bertebaran?<br />
<span id="more-198"></span><br />
Kota ibarat kembang gula, menarik banyak manusia untuk datang kepadanya. Kota terutama masih dipandang sebagai sebuah surga yang menjajikan dan menarik banyak orang untuk menjadi perantauan atau migran dengan berbagai tujuan entah itu bekerja, sekolah, ataupun serangkaian kegiatan lain yang mengharuskan mereka untuk invasi ke sana. Kota bisa jadi seperti mimpi, seperti halnya yang terlihat dalam televisi, gedung tinggi pencakar langit dilatar belakangi dengan jalanan panjang yang penuh mobil berderet. Di malam hari mungkin memang nampak berkerlap kerlip manis walaupun sesungguhnya nampak berbeda dengan banyaknya kemacetan di siang hari. Intinya, setiap orang yang datang ke kota pasti mengharapkan kemajuan hidup di sana. Ironisnya, kota yang semakin lama semakin dipenuhi banyak manusia ini tidak bisa bertambah luas. Dengan kata lain, penduduk semakin banyak namun space tidak bisa berubah.</p>
<p>Hal inilah yang kemudian membuat para arsitek berpikir bagaimana caranya mengakomodir sebuah tempat yang bisa dihuni banyak orang namun dengan keruangan yang begitu terbatas. Bangunan bertingkat kemudian muncul menjadi solusi bagi permasalahan tersebut seperti yang nampak sekarang; apartemen, gedung pencakar langit dan bangunan bertingkat lainnya. Tempat hunian ini berkembang ke atas bukan kesamping demi mengatasi sempitnya ruang kota. Dan biasanya sebuah bangunan yang tinggi selalu nampak megah dibandingkan bangunan lantai satu, itu jika memang sebuah tempat dipandang dari segi fisik.</p>
<p>Namun kota dengan beragam penghuninya, rupanya tidak hanya sekedar lanskap mewah yang menjulang. Kalau kita mau melihat lebih kedalam lagi, ada banyak lingkungan yang jauh dari kesan megah tersebut. Tengoklah pemukimam kumuh yang berjejer di pinggiran sungai dan kanan-kiri rel kereta api, rumah-rumah sempit yang terjepit diantara gedung-gedung tinggi, mereka ini nyata adanya bagai ingin menunjukkan dualisme wajah kota. Justru jika kita jujur dan menjadikan aspek fisik sebagai panduan sebuah modernitas dari kota, maka kota yang gemerlapan dan megah menjulang hanyalah make-up untuk menutupi kepahitan yang sia-sia disembunyikannya.</p>
<p>Meskipun demikian, sebuah bangunan tinggi yang didasarkan pada fungsinya untuk mengayomi sekian banyak kepala di tengah space terbatas yang disebut kota ini masihlah cukup baik daripada bangunan megah yang sungguh kehilangan makna karena tak jelas untuk apa. </p>
<p>Kaum elit, katakanlah demikian bagi mereka yang rela mengeluarkan biaya tak terkira banyaknya demi membangun sebuah rumah super megah yang luar biasa besarnya. Rumah berpagar tinggi dengan gaya eropa dikelilingi patung-patung bersayap, sebuah kolam renang pribadi, dan mungkin juga belasan kamar kosong di dalamnya. Tak puas dengan fisik megah, merekapun memboyong air terjun buatan dan taman luas berbunga-bunga untuk mendapatkan sensasi alam yang sebenarnya; air terjun asli dan lembah, dengan harapan mereka dapat menikmati gemericik air dan indahnya alam tanpa harus datang ke tempat aslinya. Cukup duduk di halaman rumah, dan semua pemandangan indah tersaji di depan mata. </p>
<p>Nampaknya kesuksesan secara financial membuat mereka berpikir untuk merangkum semesta dalam huniannya. Ini bisa jadi juga merupakan bukti kemampuan manusia dalam memecahkan problem keruangan. Mungkin saat ini manusia mampu membuat air terjun dan taman, bisa jadi nanti mereka juga akan membuat gunung dan hutan di halaman.</p>
<p>Namun, sudah rahasia umum jika dikatakan bahwa si empunya rumah justru bukanlah orang yang menikmati kemewahan tersebut. Mereka lebih sibuk dengan bisnisnya, tinggal dikantor bahkan ke luar kota sebagai kompensasi kerja. Akhirnya rumah mewah tersebut justru menjadi rumah pembantu, merekalah yang berkuasa atas rumah itu selama tuan dan nyonya tidak ada, yang sudah pasti intesitas keberadaannya lebih sedikit daripada ketidakhadiran mereka di rumah sendiri.</p>
<p>Belum lagi rumah-rumah megah lain yang berdampingan di kanan-kirinya dan sama-sama berpagar tinggi. Alih-alih dijadikan alasan dengan kata privasi dan keamanan, lingkungan yang seperti itu justru menampakkan kesan angkuh dan kesepian. Orang yang tinggal di dalamnya kemungkinan besar tidak akan mengenal orang yang ada di sekitarnya, sebab mereka dibatasi oleh pagar besi yang secara tak langsung menjadi simbol individualisme mereka. Bagaimana mau bergaul, kenal saja tidak.</p>
<p>Jika sudah begitu, bagaimana sebuah bangunan dan bentuk keruangan menjadi begitu bermakna? Bukankah hal ini tergantung pada individu penghuninya juga? </p>
<p>Ada sebuah pemandangan yang menarik yang selalu saya saksikan setiap hari, sebuah rumah kecil terbuat dari gedek (anyaman bambu) terjepit diantara rumah-rumah tinggi di gang samping kos-kosan. Saya tak tahu rumah itu sebenarnya dihuni oleh berapa orang, sebab hampir setiap hari ada banyak orang yang stand-by di sana bagaikan empu rumah sendiri. Kecil namun selalu dipenuhi dengan gelak tawa dan keceriaan. Secara logika, rasanya tidak mungkin semua orang tersebut tinggal berdesakan dalam sebuah rumah yang sempit, namun begitulah adanya. Masih rahasia tentang bagaimana cara mereka mengatur space yang begitu kecil dengan sekian banyak penghuninya.</p>
<p>Berbeda dengan rumah-rumah tinggi yang mengitarinya, hampir dua tahun tinggal di dekat mereka namun saya jarang melihat si pemilik rumah. Kalaupun beruntung berpapasan, tidak pernah ada kontak mata apalagi suara, mereka selalu nampak sibuk dan terburu-terburu membuka menutup pagar seolah sedang dikejar waktu. Yang tertinggal kemudian hanyalah kesunyian, dan rumah tinggi terkunci sendirian. Privasi, begitu seringkali dijadikan alasan orang untuk hidup sendiri-sendiri. Kaum elit yang mencoba membangun sebuah istana luas berpagar tinggi, namun sempit secara psikologis tanpa mengenal lingkungan sekitarnya. </p>
<p>Begitu pula kecenderungan yang seringkali terjadi pada masyarakat kota. F Budi Hardiman dalam esainya Tirani Visualitas menjelaskan ciri keterasingan yang dialami orang kota dengan sebuah contoh kemampuan orang kota yang sanggup berlama-lama hanya saling menatap tanpa bertegur sapa dalam sebuah tempat umum. Di stasiun kereta atau di dalam metro mini misalnya, orang mampu berdiam diri tanpa bertegur sapa dengan orang-orang di dekatnya, memandang lurus kosong ke depan. Tubuh saling berdekatan namun sejatinya masing-masing mengembara dengan pikirannya sendiri-sendiri menjadikan mereka dekat secara fisik namun memagari psikologisnya dengan tembok privasi yang mereka bangun sendiri. Form mengatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk keterasingan manusia dengan manusia, selain keterasingan dirinya dengan dunia kerja tentu saja.</p>
<p>Kota, dimanapun, selalu diidentikkan dengan modernitas yang berarti kota dalam kapasitas besar (Berger et al., 1992:63). Modernitas yang disebarkan oleh bangsa barat yang juga mewariskan efek sampingnya yaitu gejala individualis manusia. Gedung bertingkat, perkantoran, mall tempat berkumpulnya manusia yang merasa dirinya modern dan memiliki hak atas gemerlapnya ruang fisik tersebut. Keberadaan mereka seperti semakin menasbihkan kemerdekaan atas privasinya. Orang bebas berlalu lalang dan berpapasan dengan manusia lain namun dengan tetap pikirannya sendiri-sendiri. Memerdekakan diri sekaligus mengasingkan dengan mengambil jarak fisik dan psikologis.</p>
<p>Apakah hal tersebut salah? Tidak ada benar dan salah dalam pandangan relativitas sebab segala sesuatu bisa jadi berbeda dalam sisi yang lainnya. Siapapun tentu tak akan bisa menyalahkan orang-orang yang membangunan pemukiman mewah bergaya eropa dengan taman indah mengitarinya, mereka memang punya hak dan kuat secara finansial untuk itu entah dengan dalih privacy, kenyamanan, atau apapun. Namun kota, demikianlah kenyataannya, pemukiman mewah mentereng bisa saja bertetangga dengan pemukiman kumuh di sampingnya. </p>
<p>Rumah-rumah kecil berdempetan dengan jalan becek setiap habis tersiram hujan, atau seperti kompleks rumah susun dengan jemuran bertebaran, adalah wajah lain dari lanskap kota. Anak-anak kecil bermain petak umpet dan berkejaran di jalan-jalan sempit. Gerobak sayuran dan penjual cilok juga dengan santainya menjajakan dagangannya tanpa takut dikejar-kejar petugas keamanan. Orang-orang bisa dengan bebasnya saling menyapa, menyetel musik dengan volume keras serta tak malu berjoged dangdut di halaman tanpa dibebani oleh apa yang orang elit sebut sebagai privasi. Kesusahan dalam hal fisik tak membuat mereka harus menampakkan kesusahan diwajahnya, justru dengan demikian orang jadi bebas mengekspresikan perasaannya. </p>
<p>Sebuah perbedaan fisik yang mencolok, namun tak ada yang berani menjamin bahwa pemilik pemukiman mewah lebih bahagia dari pemukiman kumuh sebelahnya. Sebab masalah kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak dan tak bisa diukur dengan fisik semata. Bukan berarti penghuni rumah mewah tak bahagia, namun dilihat dari cara mereka yang berbeda dalam mengekspresikan perasaannya, orang-orang dalam lingkungan yang disebut kampungan kumuh sepertinya lebih bebas. Setidaknya begitulah yang nampak dari luarnya.<br />
Konsep keruangan dalam kota entah itu secara fisik yang nampak digambarkan dengan gedung mewah dan pemukiman kumuh, maupun psikologis manusia penghuninya yang tidak nampak adalah sesuatu yang menarik untuk dikaji. Apakah benar lingkungan fisik kota mempengaruhi lingkungan psikologis mereka, serta apakah keruangan yang berbeda juga mempengaruhi pola sosiokulturalnya. </p>
<p>Meminjam istilah Marx, orang miskin semakin dikukuhkan dengan kemiskinannya. Mereka akan tetap saja mempunyai psikologis yang miskin meskipun sudah menjadi orang yang kaya. Seorang bos yang mempunyai penghasilan tinggi tetap saja akan merindukan kehidupan lamanya di perkampungan miskin. Kehidupan mewah dengan harta berlimpah tetap saja membuatnya tak nyaman, apalagi jika harus makan dengan sendok dan tidak memakai suapan tangan. Situasi baru seseorang tidak bisa melepaskan seseorang dengan kenangan tentang kehidupan lamanya tersebut. Benarkah demikian?</p>
<p>Foucault mempunyai pendapat yang berbeda untuk itu, dia berkomentar tentang manusia, ruang dan kekuasaan; bahwasanya perubahan material tidak dapat menjelaskan perubahan dalam subyektivitas. Secara tak langsung, keruangan psikologis sama halnya dengan waktu adalah sesuatu yang relative antar individu. Bolehlah sebuah bangunan megah dengan patung romawi mendongak sebagai symbol selamat datang, namun siapa yang bisa menjamin bahwa penghuninya lebih bahagia daripada pemilik sebuah rumah mungil yang terjepit di tengah bagunan tinggi? Nyatanya keluasan keruangan secara fisik tidak menjamin keluasan keruangan psikologis penghuninya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=198&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/27/kota-dan-keruangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Autumn in Paris</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/22/autumn-in-paris/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/22/autumn-in-paris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 05:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[teenlit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/22/autumn-in-paris/</guid>
		<description><![CDATA[Pengarang: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua, November 2007 Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Tatsuya Fujisawa sudah pernah merasakan sakitnya&#8230; Lelaki itu membenci Paris dan musim gugur, karena baginya Paris mengingatkannya pada seorang yang telah menghancurkan hidupnya. Namun dia telah bertekad, bahwa kenyataan itu sepahit apapun mau tidak mau harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=193&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/01/autumninparissm11.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/01/autumninparissm11.jpg?w=168&#038;h=250" alt="" title="autumninparissm11" width="168" height="250" class="aligncenter size-full wp-image-194" /></a></p>
<p>Pengarang: Ilana Tan<br />
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama<br />
Cetakan kedua, November 2007</p>
<p>Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Tatsuya Fujisawa sudah pernah merasakan sakitnya&#8230;</p>
<p>Lelaki itu membenci Paris dan musim gugur, karena baginya Paris mengingatkannya pada seorang yang telah menghancurkan hidupnya. Namun dia telah bertekad, bahwa kenyataan itu sepahit apapun mau tidak mau harus dia hadapi. Oleh karena itulah suatu hari dia datang menemui orang tersebut, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya, lelaki yang merupakan cinta pertama ibunya, sekaligus lelaki yang merupakan ayah kandungnya sendiri, Jean Daniel Lemercier.<br />
<span id="more-193"></span><br />
Hari itu, lelaki itu baru saja sampai di bandara Charles de Gaulle, kunjungannya yang kesekian di Perancis. Saat hendak memeriksa jadwal kerjanya di sana, seorang gadis tanpa sengaja menyenggol kopernya, gadis itu hanya sempat mengucapkan maaf sebentar dan terus melaju. Lelaki itu menatap si gadis yang kini tengah duduk dengan posisi sedikit membelakangi sang lelaki dengan kaki bersilang pada sebuah sofa di café yang sama. Gadis itu, posisi duduknya, kaca jendela besar, dan sinar matahari yang menyinarinya membuat sosok gadis itu menjadi kabur dan memberi kesan misterius. Saat itu sang lelaki sadar dia telah terpesona padanya.</p>
<p>Dia tak pernah berpikir akan bertemu gadis itu lagi, namun rupanya hidup ini penuh dengan kejutan. Masih di hari yang sama, dia justru bertemu kembali dengan gadis itu di sebuah café dalam keadaan mabuk. Keberuntunganpun berlanjut, saat suatu siang dia dipertemukan lagi dengan si gadis pada sebuah janji pertemuan dengan rekan kerjanya, Sebastien. Untuk pertama kalinya lelaki itu tahu nama gadis misterius tersebut, Tara Dupont.</p>
<p>Paris dan musim gugur berubah menjadi lebih indah dengan kehadiran Tara Dupont, gadis yang dia cintai dan mencintainya. Namun sekali lagi, hidup ini selalu penuh dengan kejutan. Siapa yang menyangka jika pada akhirnya dia akan mengetahui bahwa Tara Dupont aslinya bernama Victoria, putri dari Jean Daniel Lemercier, ayah kandungnya sendiri. </p>
<p>Dari ketiga buku Iliana Tan yang aku baca, Autumn in Paris adalah buku yang paling menarik dibandingkan dua lainnya. Tentu saja karena sesuai janji teman yang meminjamkan buku ini, cerita berakhir dengan sad ending. Ketika mengetahui bahwa mereka bersaudara, Tara Dupont pernah berniat untuk bunuh diri dengan cara melompat di sungai Sheine. Sementara itu, Tatsuya Fujiyama dengan memendam rasa sakitnya karena harus mencintai Tara, adik kandung yang tak boleh dicintai, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jepang. Meskipun demikian, jarak ternyata tidak cukup mampu menghapus perasaan itu bahkan sampai detik kematian Tatsuya Fujisawa karena kecelakaan kerja.</p>
<p>Kelihatannya memang sedikit lebay, tapi aku hanya membayangkan jika benar-benar ada cerita yang seperti ini di dunia nyata, betapa tersiksanya orang yang mengalami hal itu. Mencintai orang yang tak boleh dicintai, padahal siapa yang tahu cinta akan memilihkan orang yang mana untuk dirinya. </p>
<p>Next, Winter in Tokyo&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=193&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/22/autumn-in-paris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/01/autumninparissm11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">autumninparissm11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Lost Shoes</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/08/the-lost-shoes/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/08/the-lost-shoes/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 10:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Journal]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/08/the-lost-shoes/</guid>
		<description><![CDATA[8 Januari , saat hari meredup dan mendung mengeja langit&#8230; Betapa terkejutnya aku saat keluar dari PMPM siang ini, sepatu hitamku yang biasa bertengger di rak paling atas mendadak raib tak berbekas. Kemanakah? Mataku celingukan menyisiri deretan sepatu-sepatu lain yang berserakan, namun tetap saja tak nampak ujung sepatuku. Aku menarik nafas, mulanya kupikir mataku sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=187&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>8 Januari , saat hari meredup dan mendung mengeja langit&#8230;</em></p>
<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/01/dicari2.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/01/dicari2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Lost Shoes" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-188" /></a></p>
<p>Betapa terkejutnya aku saat keluar dari PMPM siang ini, sepatu hitamku yang biasa bertengger di rak paling atas mendadak raib tak berbekas. Kemanakah? Mataku celingukan menyisiri deretan sepatu-sepatu lain yang berserakan, namun tetap saja tak nampak ujung sepatuku. Aku menarik nafas, mulanya kupikir mataku sudah terlalu lelah memandangi layar komputer sehingga sepatu sendiripun terlewat. Maka kugosok-gosokkan tangan pada mata beberapa kali, dan kembali mencari sepatuku diantara rak dan tumpukan sepatu lainnya. Tetap tidak ada. Astaga, sepatuku benar-benar hilang!<br />
<span id="more-187"></span><br />
Dengan langkah lunglai aku masuk kembali ke ruangan, <em>“Teman-teman, sepatuku hilang…”</em>. Seluruh ruangan serentak menoleh. Beragam komentar bernada tak percayapun sontak bertaburan. Ya bagaimana lagi, akupun juga tak percaya, tapi beginilah keadaan adanya (hahahaw mendramatisir sekali).</p>
<p>Rupanya hari ini, bukan hanya aku yang menjadi korban kehilangan sepatu, ada beberapa anak yang juga mengaku kehilangan sepatunya. Seorang anak laki-laki dan dua orang perempuan termasuk aku. Ada apa ini? Apa tren pencurian telah berubah? Jika dulu hanya laptop dan ponsel yang hilang, sekarang bahkan sepatupun ikut ditilep. Apalagi nanti?</p>
<p><em>“Kok bisa punya sampeyan yang ilang? Modelnya gimana mbak?”</em></p>
<p>Sepatuku itu, sebuah Nevada berwarna hitam dengan harga di atas rata-rata yang bagi orang sepertiku termasuk amat sangat berharga. Yaah mengingat bahwa sebelum-sebelumnya aku tak pernah punya sepatu dengan harga di atas 40 ribu, kebanyakan sih sepatu-sepatu murah 19 ribuan hasil nawar di pasar Wonokromo. Aku memang suka gonta-ganti sepatu sehingga hampir setiap satu semester  bisa ganti 2-3 kali, dengan alasan yang rasional; sepatu murah kan cepet rusak, jadi gak apa-apa dong ganti lagi.</p>
<p>Sampai suatu malam, saat sedang mengantar temans (Cindy dan Tyas) cuci mata di Matahari. Mataku tertuju pada sebuah sepatu unik di etalase. Aku langsung menyadari bahwa telah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama (halah). Sepatu itu bentuknya lucu, dengan manik-manik kecil di ujungnya sebagai pemanis. Ukurannya pas, dan begitu ringan dipakai. </p>
<p>Delapan puluh sembilan ribu rupiah adalah harga yang harus kubayarkan untuk membawanya pulang. Itu bukan jumlah yang sedikit buatku, kawan. Bayangkan berapa nasi bungkus 3 ribuan yang bisa ku dapat dengan 89 ribu? Aku bahkan harus meminjam uang kepada Cindy untuk membelinya, maklum waktu itu aku nggak bawa uang banyak. Aku bahkan baru tahu beberapa saat setelah membelinya kalau Nevada itu termasuk sepatu ber-merek (lumayan)terkenal dari penjelasan Cindy yang sepertinya tidak terima saat kubilang, <em>“Cuma kayak gini tapi kok mahal ya?”</em>. Wajarlah kalau aku tidak tahu, aku kan biasanya hanya beli sepatu murah dengan merek entah apa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Begitulah cerita sepatuku yang baru sempat kupakai selama dua bulan. Bukan waktu yang lama, tapi cukup membuatku shock saat kehilangannya siang tadi. Aku sudah terbiasa mencintai apapun yang aku punya, bahkan sebuah benda kecil sekalipun. Sebelumnya aku berharap ini adalah terakhir kalinya aku berganti sepatu, namun sayang takdir rupanya berkata lain. Ada orang di sekitar kita yang merasa lebih berhak terhadap sepatu itu dengan mengambilnya. Ya sudah biarkan saja, mungkin Tuhan akan memberi ganti yang lebih baik untukku.</p>
<p>Aku tidak dendam pada orang itu, barangkali dia memang lebih membutuhkannya. Tapi tetap saja dengan dalih apapun, mengambil barang orang lain adalah perbuatan yang tidak terpuji. Lagipula aku juga ingin memperingatkan pada teman-temanku yang lain agar lebih berhati-hati dengan barang-barangnya, karena sekarang kejahatan rupanya tidak bermata, bisa terjadi pada apa saja bahkan sepatu kita. </p>
<p>Maka, kuputuskan untuk membuat sebuah pengumuman kecil dengan gambar sepatuku ditengahnya. Bukan dengan harapan agar sepatuku kembali, tapi agar dia yang mengambil menjadi jera karena aku sebagai salah satu korbannya tidak tinggal diam begitu saja, serta agar teman-teman yang lain juga ikut waspada terhadap sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. Untungnya aku punya foto sepatu itu sebelum sepatu itu hilang, dulu aku pernah berniat untuk menuliskan sebuah cerita sendiri tentangnya. Kini cerita itu terlaksana, tapi dengan tema yang berbeda, <em>The Lost Shoes</em>.</p>
<p>Setelah menempelkan sebuah pengumuman di papan lobi lantai satu, akupun bergegas pulang, melangkah santai dengan sandal jepit putih pinjaman dari musholla&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=187&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2010/01/08/the-lost-shoes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2010/01/dicari2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Lost Shoes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Summer In Seoul</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/12/23/summer-in-seoul/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/12/23/summer-in-seoul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 10:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Pengarang: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua, Mei 2007 Aku beberapa kali pernah bilang bahwa aku tidak terlalu suka teenlit, ya jika masih ada pilihan bacaan lain tentunya. Meskipun sebenarnya juga bukanlah orang yang anti teenlit, tapi rasanya garing saja membaca cerita yang alurnya mudah ditebak mau dibawa ke mana pembacanya. Well, tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=173&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/12/summer.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/12/summer.jpg?w=223&#038;h=300" alt="" title="summer" width="223" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-174" /></a></p>
<p>Pengarang: Ilana Tan<br />
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama<br />
Cetakan kedua, Mei 2007</p>
<p>Aku beberapa kali pernah bilang bahwa aku tidak terlalu suka teenlit, ya jika masih ada pilihan bacaan lain tentunya. Meskipun sebenarnya juga bukanlah orang yang anti teenlit, tapi rasanya garing saja membaca cerita yang alurnya mudah ditebak mau dibawa ke mana pembacanya. Well, tapi kali ini aku sedang ingin membahas teenlit, anggap saja ulasan istimewa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<span id="more-173"></span><br />
Kebetulan seminggu yang lalu mendapat pinjaman tiga teenlit sekaligus dari seorang teman (yang juga pinjam temannya heheh).  Pengarangnya sama, Ilana Han, tapi dengan judul yang berbeda-beda. Aku disugesti habis-habisan bahwa ini adalah teenlit yang bagus dan berakhir sesuai dengan kesukaanku yaitu sad ending, makanya aku iyakan saja, toh aku juga sedang kosong bacaan. Akhirnya tidak membutuhkan waktu yang lama maka ketiga buku itupun selesai kuperkosa, cukup dua hari saja sekali duduk baca.</p>
<p>Oke, mulai dari buku pertama, Summer in Seoul. Sesuai dengan judulnya, setting cerita buku ini memang berada di luar negeri, Korea sana tepatnya. Buku ini menceritakan tentang Sandy alias Han Soon-Hee (ribet sekali namanya), seorang gadis muda blasteran Indonesia-Korea yang sedang menuntut studi di negaranya Janggem itu. Suatu malam saat pulang dari tempat kerja paruh waktunya, Sandy mampir ke sebuah toko. Namun sayang karena sibuk mencari dompet yang tiba-tiba raib saat hendak membayar, Sandy ceroboh meletakkan poselnya sehingga tertukar dengan ponsel orang lain yang bentuknya sama.</p>
<p>Dari situlah segalanya dimulai, Sandy berusaha mencari kembali ponsel miliknya. Namun betapa terkejutnya dia bahwa ponselnya ternyata tertukar dengan ponsel seorang lelaki yang juga artis terkenal, Jung Tae-Woo. Dan bisa ditebak kemudian, kedua orang itupun akhirnya saling jatuh cinta karena keseringan bersama, seperti pepatah jawa yang familiar dan membosankan ‘withing tresno jalaran soko kulino’.</p>
<p>Hari-hari yang indahpun mereka lalui bersama, sampai kemudian munculah gosip yang menerpa hubungan keduanya. Bukan karena salah satu dari mereka dikabarkan punya selingkuhan baru (ini sih infotainment Indonesia), tapi karena adanya kabar yang mengejutkan tentang kisah terpendam empat tahun lalu yang berhubungan dengan Jung Tae-Woo. </p>
<p><em>Dalam sebuah acara jumpa fans empat tahun lalu, mobil yang ditumpangi Jung Tae-Woo secara tidak sengaja menabrak seorang fansnya dan Jung Tae-Woo tidak pernah tau siapa gadis yang ditabraknya tersebut.  Sampai kemudian saat Jung Tae-Woo menjalin hubungan dengan Sandy, terbukalah sebuah rahasia bahwa gadis yang meninggal empat tahun lalu itu adalah saudara kandung Sandy.</em></p>
<p>Media mengabarkan bahwa Sandy berhubungan dengan Jung Tae-Woo karena ingin membalaskan dendam saudaranya, bahkan yang lebih kejam lagi adalah berita bahwa Sandy memanfaatkan cerita sedih tentang kematian saudaranya untuk mendapatkan cinta Jung Tae-Woo. Awalnya Sandy tidak menggubris kabar-kabar tersebut, namun karena besarnya tekanan media dan penggemar Jung Tae-Woo, maka Sandy pun memilih untuk menenangkan diri ke Indonesia. Saat di Indonesia inilah baik Jung Tae-Woo maupun Sandy saling menyadari bahwa masing-masing dari mereka memang mencintai satu sama lain. Namun naas ketika Sandy hendak kembali ke Korea, mobil yang dia tumpangi ke bandara mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sandy terluka parah.</p>
<p>Sampai di sini kupikir cerita benar-benar akan berakhir sad ending dengan kematian Sandy, yah mengingat aku dipinjami buku ini karena katanya kan ceritanya akan berakhir dengan tragis. Tapi rupanya persepsiku dengan persepsi si teman yang meminjamkan itu sedikit berbeda. Di akhir cerita rupanya Sandy berhasil sembuh dan kembali bersatu dengan Jung Tae-Woo. Bagiku ini sih namanya happy ending, tapi bagi temanku itu yang seperti ini sudah masuk katagori sad ending, namun apapun itu secara keseluruhan Summer in Seoul sedikit lebih enak dibaca daripada teenlit-teenlit yang pernah kubaca sebelumnya. Sukses buat Ilana Tan, dan terima kasih buat si teman dan temannya dia yang sudah meminjamkan buku ini padaku.</p>
<p>Well, untuk dua buku Iliana Tan yang lain, Autumn in Paris dan Winter in Tokyo akan bersambung ke postingan berikutnya, chek it out don’t miss it! *halah*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=173&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/12/23/summer-in-seoul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/12/summer.jpg?w=223" medium="image">
			<media:title type="html">summer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fear Street</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/11/28/fear-street/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/11/28/fear-street/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 12:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Journal]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[thriller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Buku spesialis thiller yang selalu berlatar belakang Shadyside dengan fear streetnya diceritakan sebagai sebuah kota kecil yang tidak pernah luput dari tragedi-tragedi mengerikan&#8230; Fear Street, rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu dengan buku ini sejak membacanya pertama kali di perpustakaan SMA. Buku spesialis thiller yang selalu berlatar belakang Shadyside dengan fear streetnya diceritakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=169&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/sdhgfdsh.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/sdhgfdsh.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" title="Fear Street" width="300" height="237" class="aligncenter size-medium wp-image-171" /></a><br />
<em>Buku spesialis thiller yang selalu berlatar belakang Shadyside dengan fear streetnya diceritakan sebagai sebuah kota kecil yang tidak pernah luput dari tragedi-tragedi mengerikan&#8230;</em><br />
<span id="more-169"></span></p>
<p>Fear Street, rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu dengan buku ini sejak membacanya pertama kali di perpustakaan SMA. Buku spesialis thiller yang selalu berlatar belakang Shadyside dengan fear streetnya diceritakan sebagai sebuah kota kecil yang tidak pernah luput dari tragedi-tragedi mengerikan. Uniknya, R.L. Stine selalu membuat tokoh baru yang tidak berhubungan dengan tokoh-tokoh dalam edisi sebelumnya walaupun setting tempatnya sama, hal ini membuat masing-masing buku merupakan sebuah cerita tersendiri yang terlepas dari buku sebelumnya.</p>
<p>Aku menemukan buku ini secara tidak sengaja saat meminjam komik di rental Donal Bebek (nama rental sesuai yang tercetak di stempel dalam buku). Fear Street ada di rak depan kasir diantara buku-buku lama yang rata-rata lembarannya sudah menguning, berdebu, dan lusuh. Ada juga serial Holmes, Sidney Sheldon, Jessica Steele, Daniele Steele, Agatha Christie, dan beberapa pengarang terkenal lainnya. Sementara itu dari golongan pengarang lokal, aku menemukan buku-buku lama karya Mira W, V Lestari, dan banyak teenlit lainnya. </p>
<p>Sejujurnya penemuan ini mengagetkanku, ternyata ada banyak kumpulan buku lama yang bisa dijadikan alternative selain komik. Apalagi aku bukanlah orang yang terjebak pada penampilan luar buku, sekalipun lembarannya sudah menguning (sebenarnya lebih tepat kalau kecoklatan), tapi tidak merubah niat untuk membacanya, yang penting kan isinya bukan covernya tow. Tentu saja aku harus mengingat-ingat untuk tidak lupa mencuci tangan setelah membaca, karena lembarannya yang lusuh seringkali membuat telapak tangan dan jari-jariku menghitam karena banyaknya debu dan kotoran yang menempel.</p>
<p>Sejak malam penemuan itu, akupun selalu menyempatkan diri untuk meminjam buku-buku di sana setiap setidaknya seminggu sekali. Karena aku sedang ingin nostalgia dengan Fear Street terlebih dahulu maka liburan Idul Adha ini aku bahkan meminjam enam buah buku Fear Street sekaligus untuk mengisi waktu kosong selama ditinggal anak-anak pulang kampung. Kalau sudah selesai terbaca semuanya mungkin  akan beralih ke Agatha Cristhie dan lainnya.</p>
<p>Well, setelah membaca buku ini ada keinginan untuk mempostingkan resumenya di blog, tapi tidak akan kubuat sekaligus, nanti akan kuselang-seling dengan postingan lainnya. But now, lets read it first!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=169&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/11/28/fear-street/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/sdhgfdsh.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Fear Street</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pujon (Smart Camp II)</title>
		<link>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/11/23/pujon-smart-camp-ii/</link>
		<comments>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/11/23/pujon-smart-camp-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:06:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[smart camp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bungaperdu.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Smart Camp 2, Dsn.Sebaloh, Ds.Pandesari, Pujon, Malang 13-15 November 2009 Kalau smart camp pertama tahun lalu saya bersama rombongan teman-teman yang tergabung dalam komunitas Insan Baca telah mengunjungi Panderman, kali ini smart camp kedua Pujon menjadi pilihan. Lanskap antara Panderman dengan Pujon hampir sama, tentu saja karena keduanya memang terletak di wilayah yang sama, Batu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=152&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_155" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic1.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Smart Camp " width="300" height="225" class="size-medium wp-image-155" /></a><p class="wp-caption-text">di depan pondok Cak Gimbal</p></div>
<p><em>Smart Camp 2, Dsn.Sebaloh, Ds.Pandesari, Pujon, Malang 13-15 November 2009</em><br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Kalau smart camp pertama tahun lalu saya bersama rombongan teman-teman yang tergabung dalam komunitas Insan Baca telah mengunjungi Panderman, kali ini smart camp kedua Pujon menjadi pilihan. Lanskap antara Panderman dengan Pujon hampir sama, tentu saja karena keduanya memang terletak di wilayah yang sama, Batu Malang. Hawa dingin dan pemandangan yang khas pegunungan menjadi hiburan tersendiri bagi kami selama tiga hari tersebut setelah sekian lama berkutat di panasnya Surabaya.</p>
<div id="attachment_162" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic9.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic9.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="smart camp" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-162" /></a><p class="wp-caption-text">pemandangan Pujon</p></div>
<p>Berangkat dari Surabaya sekitar pukul setengah lima sore dan baru sampai Pujon pukul delapan malam. Begitu turun dari Bison, kami disambut oleh Cak Gimbal dari komunitas Balai Gunung Kawitan. Perkenalan, ngobrol dan saling berbagi adalah agenda kami malam itu. </p>
<div id="attachment_157" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic3.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic3.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="smart camp" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-157" /></a><p class="wp-caption-text">perkenalan Cak Gimbal</p></div>
<p>Keesokan harinya, setelah sarapan dan bersih diri, acara komunitas dimulai dengan meminjam balai Rw. Materinya cukup beragam tentang kepemimpinan, kerja sama dan seluk beluk komunitas Insan Baca.</p>
<div id="attachment_156" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic2.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="smart camp" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-156" /></a><p class="wp-caption-text">salah satu materi komunitas</p></div>
<p>Menjelang siang, kami kedatangan anak-anak daerah setempat yang memang telah dikoordinasi sebelumnya oleh Cak Gimbal. Golongan ini terdiri dari dua kelompok, pertama anak-anak kecil setingkat SD, kami telah menyediakan alat-alat gambar yang bisa mereka gunakan. Senangnya bisa berbagi dengan mereka, melihat anak-anak ini begitu antusias dalam mencorat-coret kertas putihnya dengan krayon. Setelah menggambar, kami memasukkan inti dari pesan yang ingin disampaikan, bahwa pada dasarnya anak-anak mempunyai hak untuk belajar bermain yang semuanya dilindungi dalam Konvensi Hak Anak Sedunia.</p>
<div id="attachment_158" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic4.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic4.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="smart camp" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-158" /></a><p class="wp-caption-text">anak-anak dan gambar</p></div>
<p>Golongan kedua adalah anak-anak setingkat SMP dan SMA, untuk mereka kami memutarkan sebuah film tentang lingkungan hidup. Kura-kura mengambang di angkasa yang diibaratkan dengan bumi serta monyet-monyet penghuni punggungnya yang diibaratkan dengan manusia. Dengan media film tersebut, diharapkan anak-anak akan belajar untuk menghargai alam.</p>
<p>Acara kemudian berakhir menjelang pukul empat sore, setelah berjanji dengan anak-anak itu untuk kembali malam harinya, kami melanjutkan kegiatan hari itu dengan mengunjungi tempat pemerahan sapi. Sepertinya kami belum beruntung untuk menyaksikan sendiri proses pemerahannya. Dulu di Panderman kami kesiangan sehingga melewatkan proses tersebut, sekarangpun kami kesorean hingga lagi-lagi tak bisa melihat pemerahan susu. Namun bisa jalan-jalan dan melihat langsung sapi perah dari dekat sudah cukup menghibur kami. </p>
<p>Malam harinya kami menepati janji pada anak-anak untuk memutarkan sebuah film pada mereka. Garuda di Dadaku dipilih karena merupakan film yang cocok bagi anak-anak untuk membangkitkan rasa nasionalisme mereka. </p>
<p>Hari ketiga di Pujon, kami dan teman-teman kecil dari balai gunung kawitan melakukan perjalanan alam, trekking begitu kami menyebutnya. Setelah melewati daerah persawahan kamipun memasuki hutan pinus. Warna hijau damai terhampar di sekeliling kami, pepohonan, gemericik air sungai dan suara-suara alam benar-benar membuat kami terpesona.</p>
<div id="attachment_164" class="wp-caption aligncenter" style="width: 140px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic51.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic51.jpg?w=130&#038;h=97" alt="" title="smart camp" width="130" height="97" class="size-full wp-image-164" /></a><p class="wp-caption-text">tracking bersama teman-teman kecil</p></div>
<p>Kami berhenti di lokasi yang telah ditentukan, sebuah cekungan yang lumayan lebar di pinggir sungai. Di tempat ini kami bermain dan belajar bersama tentang alam, kerjasama, dan banyak hal. Suasana begitu riuh oleh tawa, inilah belajar yang sebenarnya, belajar dari alam.</p>
<div id="attachment_160" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic6.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic6.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="smart camp" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-160" /></a><p class="wp-caption-text">bermain game azab dance :p</p></div>
<p>Setelah puas bermain-main, kami mau tak mau harus kembali ke base camp sebab hari telah semakin siang dan kami harus segera kembali ke Surabaya. Pemberian kenang-kenangan dari Insan Baca kepada teman-teman balai gunung kawitan diserahkan kepada Cak Gimbal, dua buah poster tentang perlindungan anak, souvenir kerjasama, serta buku-buku yang diharapkan bisa menambah koleksi perpustakaan mini di sana.</p>
<div id="attachment_161" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic8.jpg"><img src="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic8.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="smart camp" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-161" /></a><p class="wp-caption-text">penyerahan cendramata dari Insan Baca</p></div>
<p>Sementara itu Cak Gimbal juga tak mau ketinggalan, beliau memberi kami sebuah pohon Beringin sebagai simbol pelestarian alam, meski sesudah itu beliau juga mempersilahkan masing-masing dari kami yang berminat mengambil bibit pohon yang dikembang biakkan di halamannya.</p>
<p>Dengan berat hati kami meninggalkan Pujon siang itu. Tiga hari, waktu yang terlalu singkat untuk bereksplorasi, namun semua kenangan yang kami dapat dari tempat itu telah begitu banyak sehingga membuat kami enggan meninggalkannya. Pujon, komunitas balai gunung kawitan, dan Cak Gimbal yang nyentrik terima kasih kami atas pelajarannya tiga hari ini&#8230;</p>
<p>Sampai jumpa di smart camp berikutnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bungaperdu.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bungaperdu.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bungaperdu.wordpress.com&amp;blog=3943083&amp;post=152&amp;subd=bungaperdu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bungaperdu.wordpress.com/2009/11/23/pujon-smart-camp-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e6205d4ca42d6cb8c53318e26efb04c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bungaperdu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Smart Camp </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic9.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic51.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bungaperdu.files.wordpress.com/2009/11/pic8.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smart camp</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
