Gerbera, Si Mungil Pink

gerberaSeingatku, akhir tahun 2015 lalu aku melihat sekuntum bunga berwarna pink nyempil di antara semak halaman tetangga depan rumah. Kecil dan nampak kontras diantara rerimbunan alamanda kuning. Too bad nggak sempat ngefoto.

β€œNgapain kamu?”, tanya si empunya bunga ketika melihatku jongkok memandangi kembang kecil tersebut.

β€œIni cantik banget, namanya apa ya?” ucapku sambil tertawa. Ternyata iapun hanya sekedar menanam tanpa tahu namanya.

Continue reading

Advertisements
Posted in Plants | Tagged , , , , , | Leave a comment

Kanakar

Pengarang: Ucu Agustin
Penerbit: Matahari – Jogjakarta
Cetakan: April 2005

Kanakar adalah bisik lirih seumpama bujuk pagi yang menyelusup lembut di hitam malam untuk pelan-pelan menguasai dan mengambil alih tahta dengan bantuan sinar fajar. Kanakar adalah saat bening embun di pagi bulan Januari yang berseri kehilangan pamor dan menjadi malu saat…(Kanakar, hal: 39)
Continue reading

Posted in Book | Tagged , , | 2 Comments

The Girls of Riyadh

Pengarang: Rajaa Al Sanea
Penerbit: Ufuk Publishing House
Cetakan: Cetakan I Desember 2007

Buku ini pernah populer sekitar tahun 2008. Dan waktu itu aku tidak pernah berniat membacanya. Kenapa? Melihat dari resensi-resensi yang diberikan oleh media cetak ya paling-paling isinya tidak lebih tentang kesetaraan gender dan gugatan terhadap tradisi di Saudi sana. Apa yang salah dengan kesetaraan gender? Tidak ada. Hanya aku terlalu malas mendebatkan topik yang biasanya dalam kehidupan sehari-hari menjadi topik debat kusir. Sampai tiga tahun berselang, 2011, beberapa hari yang lalu, saat didera kebosanan, seorang teman menawarkan ebook ini dan mulailah aku membaca dengan (sedikit) ogah-ogahan.

Kenapa buku ini menjadi best seller? Continue reading

Posted in Book | Leave a comment

Winter in Tokyo

Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun cetak: 2008

Oke, melanjutkan edisi teenlit trilogi Iliana Han berikutnya. Yang belum pernah baca cerita awalnya silahkan baca dua postingan di bawah.

Setelah Seoul dan Paris, kali ini Iliana Han memilih Tokyo sebagai setting ceritanya. Aku nggak benar-benar tau sih kenapa dia nggak pake setting Indonesia saja, Banten atau Merauke misalnya πŸ˜€ Yah mungkin karena dia hobi keluar negeri atau punya rencana sengaja menyimpan edisi setting Indonesia untuk bagian akhirnya. Mengingat ini adalah buku yang keluar tahun 2008 lalu, dan aku orang yang nggak update dengan teenlit, tapi kemarin waktu jalan-jalan ke Gramed kayaknya udah keluar tuh edisi terbarunya, judulnya Spring in London. *nunggu dipinjemin*
Continue reading

Posted in Book | Tagged , | 3 Comments

Kota dan Keruangan

Nyatanya, keluasan keruangan secara fisik tidak menjamin keluasan keruangan psikologis penghuninya.

Berbicara tentang kota, pastilah bayangan kita mengarah pada gedung-gedung bertingkat, jalan besar dengan lalu lintas yang ramai dipadati mobil, dan segala bentuk imajinasi gemerlapan yang ada di dalamnya. Tidak salah memang, sejak saya masih kecil, televisi hitam putih -satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan saya dengan dunia luar-, hampir-hampir selalu menayangkan kota dalam sisi yang mewah. Sebagai seorang anak desa yang kanan-kirinya hanya dikelilingi sawah dan sungai, gedung bertingkat adalah hal yang luar biasa, dan karena itu membuat saya sangat ingin merasakan bagaimana sensasi berdiri di atas gedung yang paling tinggi seperti yang nampak dalam televisi.

Bertahun-tahun kemudian, impian kecil sayapun tercapai, meski hanya di lantai paling atas sebuah mall di kota metropolitan. Bukan gedung yang paling tinggi, tapi kemungkinan rasanya tidak akan beda, biasa saja. Lambat laun sayapun juga menyadari mengapa kenampakan kota begitu berbeda dengan desa dipandang dari segi fisik bangunan. Mengapa ada begitu banyak gedun-gedung tinggi bertebaran?
Continue reading

Posted in Umum | Tagged | 2 Comments

Autumn in Paris

Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua, November 2007

Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Tatsuya Fujisawa sudah pernah merasakan sakitnya…

Lelaki itu membenci Paris dan musim gugur, karena baginya Paris mengingatkannya pada seorang yang telah menghancurkan hidupnya. Namun dia telah bertekad, bahwa kenyataan itu sepahit apapun mau tidak mau harus dia hadapi. Oleh karena itulah suatu hari dia datang menemui orang tersebut, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya, lelaki yang merupakan cinta pertama ibunya, sekaligus lelaki yang merupakan ayah kandungnya sendiri, Jean Daniel Lemercier.
Continue reading

Posted in Book | Tagged , | Leave a comment

The Lost Shoes

8 Januari , saat hari meredup dan mendung mengeja langit…

Betapa terkejutnya aku saat keluar dari PMPM siang ini, sepatu hitamku yang biasa bertengger di rak paling atas mendadak raib tak berbekas. Kemanakah? Mataku celingukan menyisiri deretan sepatu-sepatu lain yang berserakan, namun tetap saja tak nampak ujung sepatuku. Aku menarik nafas, mulanya kupikir mataku sudah terlalu lelah memandangi layar komputer sehingga sepatu sendiripun terlewat. Maka kugosok-gosokkan tangan pada mata beberapa kali, dan kembali mencari sepatuku diantara rak dan tumpukan sepatu lainnya. Tetap tidak ada. Astaga, sepatuku benar-benar hilang!
Continue reading

Posted in Daily Journal | Tagged | 2 Comments